Kamis, 4 Des 2025
Daerah

Meninggal Dalam Khidmat: Ustaz Idham Dan Pengabdian Terakhir Di Hari Raya

Oplus_0

CENTRALNEWS24 — Matahari belum sepenuhnya tinggi ketika suara takbir masih mengalun di Desa Ragajaya, Bojonggede, Jumat (6/6/2025). Di sebuah lapangan kecil, puluhan warga berkumpul dengan penuh harap dan kekhidmatan. Di antara mereka, berdiri sosok yang tak asing: Ustaz Idham Khalid (65), lelaki bersahaja yang telah puluhan tahun mengabdi sebagai penyembelih hewan kurban.

Pagi itu tak ada tanda-tanda bahwa hidup Ustaz Idham akan berakhir. Ia mengenakan pakaian serba hitam, peci melekat rapi di kepala, dan tangannya mantap menggenggam golok yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Ia memimpin doa sebelum menyembelih seekor sapi, ritual yang telah ia ulang ratusan kali setiap Iduladha.

Namun kali ini berbeda. Setelah darah kurban mengalir ke tanah dan tugasnya selesai, tubuh Ustaz Idham terlihat limbung. Di depan puluhan saksi mata, ia jatuh perlahan ke tanah, seperti seseorang yang telah menunaikan misi sucinya. Ia sempat dibawa ke rumah sakit, namun nyawanya tak tertolong.

“Sejak malam takbiran, bapak sehat. Bahkan sempat takbir keliling dengan warga,” ujar Ilham Aulia (30), anak sulungnya.

“Tapi malam itu, ia menyerahkan peralatan sembelihnya ke saya. Golok, topi, semuanya. Katanya, saya harus siap meneruskan.” lanjut Ilham.

Bagi warga Ragajaya dan sekitarnya, Ustaz Idham bukan sekadar penyembelih. Ia adalah guru, pendidik, pembimbing spiritual, dan simbol dari ketekunan. Selama lebih dari dua dekade, ia melatih ratusan murid dari Bogor, Jakarta, hingga daerah lain agar mampu menyembelih hewan kurban sesuai syariat. Ia dikenal karena ketenangan, presisi, dan ketulusannya dalam menjalankan setiap tugas.

“Beliau selalu bilang, menyembelih bukan hanya soal teknik, tapi soal amanah,” kenang salah satu muridnya, Fahmi, yang kini juga menjadi jagal di daerah Gunung Putri.

Tak hanya alat sembelih yang ia wariskan, tapi juga nilai-nilai yang melekat: kerja dengan hati, hormat kepada makhluk Allah, dan niat yang lurus dalam ibadah. Bahkan, beberapa murid mengaku menerima pesan pribadi dari Ustaz Idham malam sebelum hari raya. “Beliau memanggil kami satu per satu. Memberi nasihat. Tidak biasa,” ucap salah satu dari mereka.

 

Warga yang datang ke pemakamannya tak hanya membawa bunga dan doa, tetapi juga cerita—tentang bagaimana Ustaz Idham pernah menyelamatkan sapi yang mengamuk, tentang cara dia melatih anak-anak muda agar berani menyembelih, tentang senyumnya yang tak pernah absen meski hari raya sibuk dan melelahkan.

Kematian Idham diduga karena serangan jantung mendadak. Namun bagi banyak orang, ia bukan sekadar meninggal. Ia berpulang—dalam kondisi wudhu, selesai menjalankan ibadah sunnah, di tengah gema takbir, dan dikelilingi orang-orang yang menghormatinya.

“Allah memilih cara yang mulia untuk menjemputnya,” ujar seorang warga dengan mata berkaca.

Ustaz Idham mungkin telah tiada, namun goloknya kini berada di tangan anaknya. Dan lebih dari itu, warisan terbesarnya—pengabdian, ilmu, dan cinta pada ibadah—terus hidup di hati banyak orang yang mengenalnya. ( *** )



Baca Juga